Beberapa permasalahan kulit pada bayi dan anak

Perubahan perilaku dan kegiatan selama masa pandemi ini memberikan banyak dampak pada kesehatan kulit, antara lain kebiasaan baru untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi yang ternyata jika dilakukan dengan kurang tepat memberikan risiko untuk kesehatan kulit dan semakin seringnya kita untuk mencuci tangan menggunakan sabun atau dengan hand sanitizer juga berisiko membuat kulit menjadi iritasi, juga tidak lupa permasalahan kulit pada Dermatitis Atopik.

Berjemur

Terdapat beberapa masalah terkait kegiatan berjemur ini, antara lain sunburn/ luka bakar. Sesuai anjuran dari WHO dalam guideline tentang berjemur atau kegiatan di bawah paparan sinar matahari, yaitu dengan memperhatikan UV Index, seperti pada tabel di bawah ini.

PERDOSKI juga menyarankan bagi masyarakat Indonesia yang termasuk kategori jenis kulit Fitzpatrick 4 dan 5 untuk berjemur pada:

  • UV Index 5-6
  • Untuk regional sekitar Jakarta sekitar pukul 09.00, UV Index ini tergantung dari wilayah regional yang dapat dilihat melalui aplikasi cuaca pada ponsel
  • Berjemur dilakukan secara bertahap, awal-awal selama 5 menit dan maksimal 15 menit
  • Frekuensi berjemur 2-3x/minggu
  • Area yang terjemur cukup 25% area tubuh, yaitu lengan dan tungkai
  • Sedangkan area wajah perlu dilindungi 
Untuk UV Index ini tergantung letak geografis dari garis ekuator, sesuai dengan lokasi dan jam. Contohnya seperti di bawah ini:



UV Index yang semakin tinggi menandakan semakin perlunya perlindungan bagi kulit jika memang harus beraktivitas di luar ruangan yang terpapar sinar matahari, sesuai anjuran memang sebaiknya kita dan terutama anak-anak menghindari terapapar sinar UV Index tinggi. Hal tersebut berhubungan dengan risiko keganasan pada kulit akibat paparan sinar UV (Ultra Violet) salah satunya bermanifestasi dari kejadian sunburn yang terjadi sejak masa kanak-kanak.

Iritasi kulit akibat mencuci tangan atau hand sanitizer

Semenjak masa pandemi ini yang mengharuskan kita sesering mungkin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer besar kemungkinan menyebabkan kulit iritasi seperti kulit kering, pecah-pecah, gatal, melenting, bahkan kulit mengelupas.

Bila akses air dan sabun untuk mencuci tangan memadai tentu saja lebih dianjurkan daripada menggunakan hand sanitizer, terutama jika sudah ada keluhan iritasi kulit pada tangan. Kita pun tetap harus menggunakan pelembap kulit setelahnya.

Dermatitis Atopik

Adalah salah satu jenis eksim yang terjadi akibat adanya peradangan (inflamasi) pada kulit. Dermatitis Atopik ini merupakan permasalahan kulit yang paling sering ditemui pada bayi dan anak. Secara patofisiologis, D'Atopik (DA) didasari dari adanya mutasi genetik FLG sehingga terjadi gangguan pembentukan filagrin (yang berfungsi menghasilkan seramid/ ceramide) sehingga menyebabkan pula penurunan seramid. 

Seramid ini sendiri merupakan bagian terpenting dalam pembentukan matrix interselular pada lapisan epidermis (stratum korneum). Pada kondisi seramid yang berkurang maka susunan sel korneosit pun menjadi tidak teratur dan  akan berlekatan satu dengan yang lain diantara seramid, yang mana fungsi korneosit sebagai barrier kulit ini menjadi terganggu.

Sehingga dengan adanya gangguan kulit tersebut, muncul reaksi inflamasi akibat semakin mudahnya bahan iritan masuk dan alergen yang penetrasi ke dalam kulit.

Gangguan korneosit dan seramid pada DA ini menyebabkan peningkatan TEWL (Trans Epidermal Water Loss) sehingga kulit semakin kering lagi.

Manifestasi klinis DA menurut kriteria Hill & Sulzberger dibedakan menjadi 3 fase, yaitu:

Fase Bayi (usia 0-2 tahun)
Predileksi sering pada pipi, maka sering disebut sebagai eksim susu. Biasanya diawali pada usia 2 bulan lalu dapat meluas ke seluruh tubuh terutama pada bagian ekstensor. Peradangan kulit bersifat akut, yaitu lesi kemerahan, lesi basah, berskuama, krusta kekuningan, eritema batas tidak tegas, bahkan berpapul-papul.

Fase Anak (usia >2 tahun-12 tahun)
Predileksi pada lipatan-lipatan leher, khas pada lipatan siku, lipat lutut. Lesi berupa plak atau tonjolan kulit kemerahan, papul/ vesikular yang biasanya pecah sehingga gambaran lesi menjadi erosi pada kulit.

Fase Kronik/ Dewasa (usia >3 tahun)
Gambaran lesi kering dan menebal, plak penebalan kulit atau likenifikasi kehitaman pada kondisi yang kronik, dan jika sedang eksaserbasi akut bisa kembali lesi kemerahan bisa disertai papul fibrotik (prurigo).

Untuk mengevaluasi tingkat keparahan DA dapat menggunakan beberapa alat bantu atau tools, antara lain dengan SCORAD (Scoring Atopic Dermatitis Index) yang lebih ideal dipergunakan untuk penelitian, tools ini menilai DA dari luas, intensitas, dan keluhan pasien (gatal dan insomnia).


Alat bantu lain yaitu EASI (Eczema Area and Severity Index), tools ini pun kurang praktis untuk digunakan pada aplikasi klinis sehari-hari dan lebih ideal jika pergunakan untuk kepentingan penelitian.




Namun demikian,  ada beberapa alternatif yang praktis untuk dipergunakan dalam praktik sehari-sehari yaitu dengan TISS (Three Items Severity Score)

  • Eritema
  • Edema & lesi papul
  • Eksoriasi 
pada masing-masing poin di atas dapat diberi nilai rentang 0-3
0= tidak ada, 1=ringan, 2=sedang, dan 3=berat

Seorang guru memberikan contoh pendekatan secara klinis DA yang juga praktis, seperti di bawah ini
  1. Mild (kulit kering, lesi dengan beberapa plak/patches yang <5)
  2. Moderate (eksim pada lipatan)
  3. Severe (pada lipatan dan badan)
Selanjutnya dalam penatalaksanaan DA kita menerapakan prinsip 5 pilar tatalaksana DA yaitu:
  1. Edukasi pasien dan pengasuh
  2. Menghindari faktor pencetus lingkungan/ modifikasi gaya hidup
  3. Memperkuat dan mempertahankan fungsi sawar kulit yang optimal
  4. Menghilangkan penyakit kulit inflamasi
  5. Mengendalikan dan mengeliminasi siklus gatal-garuk (terapi antihistamin)
Mempertahankan fungsi sawar kulit yang optimal
Moisturizer tidak hanya berfungsi untuk melembapkan, tapi juga mengurangi kejadian infeksi pada dermatitis yang ringan. Moisturizer yang ideal memiliki 3 fungsi, yaitu:
  • Humectants = bersifat menarik air dari luar untuk masuk ke dalam kulit (kandungan urea, propilen glikol)
  • Occlusive = mempertahankan air dalam kulit sehingga tidak mudah menguap (kandungan petrolatum, lanolin)
  • Emollients = bersifat mampu mengisi celah-celah di antara sel korneosit (kandungan coconut oil, linoleic acid)
Pada moisturizer generasi baru kini telah banyak mengandung bahan-bahan yang bersifat sebagai bahan antiinflamasi dan anti pruritus (glycyrrhetinic acid, telmesteine, vitis vinifera), juga mengandung bahan fisiologis seperti lipid, seramid, dan NMF (Natural Moisturizing Factor).

Adapun fungsi pelembap antara lain:
  • Memperbaiki sawar kulit
  • Mempertahankan integritas dan penampilan kulit
  • Mengembalikan kemampuan sawar lipid, yaitu menarik air, menahan air, dan mendistribusikan air
  • Mempertahankan hidrasi kulit dengan cara menurunkan TEWL
Anjuran mengenai cara penggunaan pelembap, sebagai berikut:
  1. Dianjurkan dalam waktu 2-3 menit setelah mandi, dengan frekuensi 2-3 kali sehari atau lebih bila kulit terasa kering
  2. Aplikasi dengan jumlah yang cukup; untuk anak sebanyak 100-200 gram/minggu dan dewasa 300 gram/minggu
  3. Bersama dengan bahan anti-inflamasi topikal saat penyakit sedang aktif atau sebagai terapi pemeliharaan
  4. Pelembap dengan bahan dasar berminyak pada kulit kering dan pelembap yang mengandung lebih banyak air untuk lesi inflamasi dan kemerahan (bahan bersifat oil-on-water)
  5. Lotion lebih baik untuk kulit yang tidak terlalu kering, area wajah, dan bagian kulit berambut.
Sebaiknya ketika mandi pun menggunakan sabun berpelembap dan dengan air biasa/air yang tidak panas, karena air panas akan meningkatkan kekeringan pada kulit.

Dalam menggunakan pelembap pun sebaiknya:
  • Area kulit dibersihkan dahulu (misalnya setelah mandi)
  • Oleskan moisturizer untuk seluruh tubuh
  • Selanjutnya aplikasi medikasi topikal pada lesi yang akut
Pemilihan potensi Kortikosteroid Topikal (KST)

Yaitu tergantung lesi kronik (fase dewasa)/ subakut (fase anak)/ akut (fase bayi), tergantung lokasi yaitu pada lokasi kulit tipis (wajah atau lipatan siku) pilih KST potensi rendag, sedangkan pada lokasi kulit tebal (telapak) pilih KST potensi lebih tinggi, selanjutnya tergantung dari usia, dan pilih KST dengan efek samping yang minimal. Pilihlah KST potensi paling rendah yang efektif.

Berdasarkan fase DA:
  • Bayi (usia 0-2 tahun) = KST maksimal potensi sedang (golongan IV)
  • Anak (usia >2 tahun-12 tahun) = KST maksimal potensi kuat (golongan II)
  • Dewasa (usia >12 tahun) = KST maksimal potensi kuat dan sangat kuat (golongan I)


Sedangkan untuk terapi lini kedua mengatasi inflamasi kulit dengan Inhibitor Kalsineurin Topikal (IKT)
  • Pimecrolimus = untuk lesi inflamasi ringan-sedang
  • Tacrolimus = untuk lesi sedang-berat
Indikasi penggunaan terapi IKT:
  • Sebagai terapi lini kedua DA jangka panjang
  • Lokasi dengan kemungkinan efek samping KST (misalnya pada wajah dan area lipatan)
  • Terapi intermiten atau terapi pemeliharaan
Terapi IKT ini diaplikasikan dengan pemakaian 1-2x/hari dan bisa untuk jangka panjang, untuk pasien dengan usia minimal 2 tahun, tetap dianjurkan untuk memakai sunscreen selama pemakaian IKT. Efek samping IKT antara lain eritema dan sensasi stinging (pedas).
-------------------

Selalu jaga kesehatan kulit kita sejak dini, ya! 😉👌


Sumber:
https://www.who.int/news-room/q-a-detail/radiation-the-ultraviolet-(uv)-index
Perdoski
IDAI 

Comments

Popular posts from this blog

Universe's well said

Freewriting One

Semoga