Perawatan Bayi BBLR

Pada masa pandemi ini terlihat kelahiran bayi meningkat cukup signifikan terutama di tempat saya bekerja, namun banyak juga bayi yang lahir kecil atau yang sering kita sebut dengan istilah BBLR, yaitu Bayi Berat Lahir Rendah.

Tentu saja kita semua mengharapkan janin dalam kandungan dapat bertumbuh dan berkembang normal sesuai dengan usia kehamilan seorang ibu. Nah, usia kehamilan (usia gestasi) dibagi menjadi tiga yaitu preterm (prematur), aterm, dan posterm. Usia kehamilan aterm (normal) berada pada rentang 37-42 minggu. 

Ketika bayi lahir, seorang dokter akan memberikan diagnosis neonatus tersebut menggunakan kurva pertumbuhan intrauterin yang disebut Kurva Lubchenco. Berdasarkan kurva ini, dokter akan melihat distribusi dari ukuran neonatus dibandingkan dengan usia kehamilannya. Kurva ini mengukur antropometri bayi dari berat badan, panjang badan, serta lingkar kepala bayi.

Secara umum, klasifikasi bayi baru lahir terbagi menjadi: sesuai berat lahir, masa gestasi, dan hubungan berat lahir dibanding usia kehamilan.

Bayi baru lahir langsung ditimbang berat badannya dalam rentang waktu 1 jam pasca lahir di fasilitas kesehatan. Berat badan bayi lahir dibagi menjadi:
  • Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR): berat lahir <2500 gram tanpa melihat usia gestasi
  • Bayi berat lahir cukup/normal: berat lahir 2500-4000 gram
  • Bayi berat lahir lebih: berat lahir > 4000 gram
Sedangkan klasifikasi bayi menurut usia gestasi (masa kehamilan):
  • Neonatus Kurang Bulan (NKB): lahir < 37 minggu
  • Neonatus Cukup Bulan (NCB): lahir usia gestasi normal (aterm) pada rentang 37-42 minggu
  • Neonatus Lebih Bulan (NLB): lahir pada usia gestasi > 42 minggu

Klasifikasi bayi berdasarkan berat lahir dibandingkan dengan usia kehamilan terbagi menjadi:
  • Kecil Masa Kehamilan (KMK) / Small for Gestation Age (SGA):
    bayi lahir dengan BB di bawah persentil ke 10.
  • Sesuai Masa Kehamilan (SMK) / Appropiate for Gestation Age (AGA):
    bayi lahir dengan BB di antara persentil ke-10 dan 90.
  • Besar Masa Kehamilan (BMK) / Large for Gestation Age (LGA):
    BB bayi di atas  persentil 90.
  Berikut ini lampiran kurva Lubchenco

Pada kejadian bayi dengan Kecil Masa Kehamilan (KMK) diduga bayi tersebut mengalami IUGR (Intrauterine Growth Restriction) / PJT  (Pertumbuhan Janin Terhambat). Secara singkat, kondisi PJT ini terbagi 2 jenis, yaitu:
  • PJT Asimetris: pada kondisi ini, ukuran kepala bayi lebih besar dari ukuran badan bayi, sehingga bayi nampak seperti pada bayi hidrocephalus. Biasanya PJT asimetris terjadi sejak kehamilan trimester ke-3.
  • PJT Simetris: terjadi lebih awal lagi yaitu usia kehamilan 20 minggu, yang mana kondisi ini tentu lebih berisiko pada perkembangan otak sang bayi.

Selanjutnya, hal penting untuk diperhatikan yaitu periode 1000 (seribu) hari pertama kehidupan, yang sering kita sebut sebagai 1000 HPK. Sebenarnya periode ini dimulai sejak usia 9 bulan dalam kandungan hingga bayi lahir usia 2 tahun. Pada periode kehamilan, faktor yang memengaruhi kejadian BBLR paling sering yaitu kondisi IUGR/PJT dan lahir prematur. Nah, kedua hal tersebut tentu saja bisa dicegah dengan melakukan upaya ANC (Ante Natal Care) yang baik. 

Sedangkan pada periode kelahiran, BBLR menjadi lebih berisiko dengan penyulit lain seperti kurangnya oksigen dan kondisi low temperature (hipotermi), sehingga sangat penting untuk melakukan resusitasi neonatus secara tepat. Pada bayi baru lahir, termasuk juga pada BBLR perlu diperhatikan kondisi STABLE bayi, yaitu:
  • S (sugar) = periksa glukosa darah sewaktu (GDS) bayi pada 1-2 jam setelah lahir, karena jika langsung diperiksa segera setelah lahir akan membuat hasil rancu dengan GDS sang ibu.
  • T (temperature) = suhu tubuh bayi jaga tetap stabil normal, hal ini perlu didukung dengan infant warmer yang baik.
  • A (airway) = jaga patensi jalan napas tetap bagus.
  • B (breathing) = waspadai usaha napas tambahan bayi yaitu napas cuping hidung (NCH).
  • L (laboratories result) = jika dicurigai adanya inifeksi.
  • E (education, emotional support) 
Nutrisi atau ASI menjadi faktor terpenting juga bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi setelah lahir, tentu saja terlebih lagi untuk BBLR. Kita semua ingin BBLR ini pada akhirnya dapat mengejar ketertinggalan berat badannya yang kurang ketika lahir. Hal ini didukung juga melalui upaya PMK (Perawatan Metode Kanguru)/ Kangaroo Mother Care (KMC), analogi sederhananya yaitu proses pana tubuh ibu menggantikan peran inkubator yang menyalurkan panas tubuh untuk bayi melalui kontak langsung skin-to-skin, sehingga bayi menjadi lebih nyaman dan tenang. Banyak testimoni yang menyatakan bahwa bayi-bayi dengan PMK ini terjadi peningkatan berat badan yang lebih cepat, karena nutrisi/ASI yang  diberikan untuk bayi terfokus untuk menaikkan massa tubuh bayi, tidak terbagi untuk menghasilkan panas (kalor) tubuh. Karena bayi mendapat kestabilan suhu tubuh dari sang ibu dengan PMK tersebut.

Berikut ini terdapat kriteria perawatan BBLR yang menggunakan patokan berat badan bayi 1800 gram:
  • BBL >1800 gram dan tanpa penyulit/masalah lain: bayi tidak ada masalah minum, tidak ada gangguan napas, dan ibu mampu merawat bayi dengan baik. Pada kondisi demikian bayi boleh melanjutkan perawatan di rumah.
  • BBL >1800 gram dengan penyulit: bayi mengalami masalah seperti sulit minum dan ada gangguan napas, maka bayi perlu perawatan di unit khusus rumah sakit yaitu NICU karena bayi berisiko memerlukan bantuan napas menggunakan bubble CPAP (continous positive airway pressure).
  • BBL <1800 gram: kondisi ini bayi memang cenderung memiliki penyulit/masalah karena banyak sistem organnya yang belum matang (mature) sehingga bayi dengan BBL <1800 gram perlu tata laksana lanjut di rumah sakit dengan fasilitas yang lebih memadai.
Memantau dan menilai pertumbuhan bayi lahir normal dapat menggunakan Kurva WHO, sedangkan pada bayi prematur menggunakan Kurva Fenton. Kurva Fenton ini dibedakan menjadi 2 jenis yaitu untuk laki-laki dan perempuan, untuk pengukuran/ plotting dilakukan minimal 1x/minggu.

Sejenak kita sedikit membahas mengenai usia koreksi untuk bayi prematur. Usia koreksi yaitu bayi berusia 0 (nol) hari, didapatkan dari usia kronologis dikurangi jumlah jeda minggu atau bulan bayi dilahirkan. Misalnya bayi usia 36 minggu (prematur) lalu menjalani masa rawat selama 1 bulan (4 minggu) sehingga saat ini usia bayi 40 minggu, harusnya si bayi berusia 1 bulan kan tapi karena ia lahir prematur, maka usia ia saat ini sebagai usia koreksi yaitu 0 (nol) hari. Contoh lainnya, usia kronologis bayi saat ini 6 bulan tapi ia lahir 2 bulan lebih awal (prematur), maka usia koreksinya adalah 4 bulan.

Nah jadi untuk bayi lahir prematur mulai menggunakan kurva WHO ketika usia 0 hari tersebut dari usia koreksinya. Sebelum usia ini, kita menggunakan Kurva Fenton




Seperti yang disebutkan di atas, nutrisi utama seorang bayi adalah ASI. Namun, jika masih saja belum mencukupi, dapat ditambahkan suplementasi nutrisi melalui HMF (Human Milk Fortifier). Tapi kendala yang dijumpai pada HMF ini adalah harganya yang masih sangat mahal dan belum dapat dijangkau oleh semua kalangan. Salah satu cara untuk inisiasi awal dalam evaluasi toleransi minum bayi dapat menggunakan sufor (susu formula) biasa terlebih dahulu, jika memang toleransi minum bayi sudah baik, baru dapat dilanjutkan dengan HMF.

Susu formula untuk bayi prematur terdapat 2 jenis yaitu sediaan bubuk dan RTUF (Ready to Use Therapeutic Food). Ada juga varian susu formula khusus yang boleh diberikan pada anak yang sudah tidak prematur, yaitu pada status BBLR non-prematur atau usia koreksinya telah mencapai 0 (nol) hari.

Susu RTUF memiliki beberapa keuntungan yaitu lebih steril dan tentu saja bisa langsung diberikan dengan takaran yang sudah sesuai (kesalahan takar dapat terhindari), namun kesulitannya yaitu perlakuannya harus seperti ASI; disimpan di kulkas, jika kemasan sudah dibuka hanya dapat bertahan hingga 2 jam pada suhu ruangan dan dapat bertahan hingga 24 jam jika di dalam kulkas.

Sekarang kita beralih pada aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada bayi:

1. Pertumbuhan
Memantau asupan bayi, BAK, BAB, serta tanda-tanda vital bayi. Evaluasi dari berat badan bayi (target peningkatan BB bayi 20-30 gram sehari), panjang badan (target 0,5-1 cm/minggu), serta mengukur lingkar kepala bayi.

2. Perkembangan
Menilai perkembangan bayi menggunakan instrumen Denver-II (karena instrumen ini tidak berbayar) dan KPSP yang berasal dari Indonesia (KPSP ini disadur dari Pra-Skriningnya Denver).
Pada KPSP menggunakan interval usia 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan, dst.
Misalnya, jika bayi usia 1-5 bulan maka menggunakan KPSP usia 3 bulan dan untuk bayi usia 6-8 bulan menggunakan KPSP usia 6 bulan.
Perlu diperhatikan pula Red Flags Milestone Anak sesuai usianya. 


3. Stimulasi
Pada bayi baru lahir stimulasi dilakukan dengan tummy time diharapkan bayi dapat mulai melatih kontrol postural leher. Lakukan juga stimulasi sesuai dengan tahap perkembangan anak.

4. Imunisasi
Imunisasi merupakan hal yang penting untuk bayi dan anak. Berikan imunisasi sesuai usia bayi. Pada kondisi bayi dengan BBLR vaksin Hepatitis B ditunda sampai dengan BB bayi 2 kg. Namun jika tetap diberikan pada BB <2 kg, maka imunisasi tersebut tidak dihitung sebagai Vaksin Hep.B- 0 (Hep B nol), sehingga pemberian vaksin ini harus disesuaikan dengan status HbsAg ibu. Misalnya, pada bayi 1800 gram well baby (bayi tanpa penyulit) lahir dari ibu dengan HbsAg reaktif, maka bayi dapat diberikan HBIG dan vaksin Hep B (walau tidak dihitung sebagai vaksin Hep B- 0), namun nantinya akan tetap diberikan vaksin Hep B terhitung sebagai booster pada usis 2, 3, dan 4 bulan.
Untuk vaksin lainnya dapat diberikan sesuai usia kronologis, misalnya pada bayi prematur tapi usia saat ini sudah 2 bulan, maka tetap diberikan vaksin DPT sehingga tidak perlu menunggu dari berat badan atau usia koreksinya. 

Berikut ini lampiran jadwal imunisasi terbaru edisi tahun 2020: 



Baik, semoga makin dapat dipahami!
Selamat belajar 😊🤞





Sumber:
IDAI
Kosim, S. et al., 2008. Buku Ajar Neonatologi Anak

Comments

Popular posts from this blog

Universe's well said

Freewriting One

Semoga